This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, April 27, 2013

Fikrah HT

Fikroh Hizbut Tahrir: Hadlarah dan Madaniyah


HTI-Press. Hadlarah merupakan sekumpulan persepsi tentang kehidupan. Sedangkan madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik (benda) yang digunakan dalam aktivitas kehidupan.
Hadlarah selalu bersifat khusus sesuai dengan pandangan hidup (sekelompok masyarakat tertentu-pen). Jadi hadlarah Islam berbeda dengan hadlarah Barat, berbeda pula dengan hadlarah komunis. Masing-masing hadlarah memiliki pandangan hidup khusus (yang spesifik) dan saling berlainan satu dengan yang lainnya.
Oleh karena itu kaum Muslim tidak dibolehkan mengambil sesuatu yang berasal dari hadlarah Barat, atau sesuatu yang berasal dari hadlarah komunis. Sebab, kedua hadlarah ini bertentangan dengan Islam.
Sedangkan madaniyah ada yang merupakan hasil dari hadlarah, seperti bentuk gambar (lukisan) dan patung atau sesuatu yang memiliki ruh. Perkara semacam ini bersifat khusus dan tidak bisa diambil, karena hadlarah Islam mengharamkan pembuatan maupun menyimpan patung. Islam mengharamkan melukis setiap gambar yang memiliki ruh, sedangkan hadlarah Barat dan komunis membolehkannya.
Madaniah merupakan hasil dari kemajuan ilmu dan perkembangan sains dan teknologi, kemajuan dibidang industri, seperti alat-alat transportasi (pesawat terbang, kapal laut, mobil), atau seperti alat-alat produksi (di bidang pertanian, industri) maupun peralatan militer canggih. Termasuk sesuatu yang dihasilkan oleh akal manusia, adalah penemuan-penemuan baru sebagai produk kemajuan di bidang sains dan industri, misalnya komputer dan lain-lain. Seluruh hasil teknologi itu bersifat universal (umum). Ia menjadi milik seluruh dunia, tidak bersifat khusus (milik satu bangsa atau umat tertentu, atau dihasilkan oleh agama dan peradaban tertentu). Ia menjadi milik seluruh umat manusia, karena tidak ada kaitannya dengan hadlarah dan tidak menyangkut pandangan hidup tertentu. Maka dibolehkan mengambilnya, sebab tidak bertentangan dengan hukum-hukum Islam, bahkan mengambilnya merupakan fardlu kifayah (Sumber: Mengenal Hizbut Tahrir)

Fitnah

buku WAMY sumber fitnah
1:23 AM | Author: el-Hafiy
Sejak mencuatnya kasus majalah Sabili (ed.21 Th. XVII 13 Mei 2010/ 28 Jumadil Awal 1431 H), perhatian kita tercuri dengan artikel berjudul Menguak Hizbut Tahrir. Tepatnya di rubrik Alam Islami dimuat profil Hizbut Tahrir (HT) sebanyak 8 halaman di hal.50-57. HT adalah Partai yang didirikan di Palestina oleh Taqiyuddin An Nabhani sebagai cucu dari ulama terkemuka Syeikh Yusuf bin Ismail an Nabhani dipaparkan panjang lebar.
sabiliYang perlu kita ketahui bahwa Syeikh Yusuf bin Ismail an Nabhani sangatlah termasyhur namanya dikalangan ulama tradisional seperti Nahdhatul Ulama. Karya-karya beliau seperti kitab Jawahirul Bihar, Jami' Karomatul Awliya, Mukhtashar (ringkasan) Riyadhus Shalihin dan sebagainya sangat familiar di lingkungan NU.
Namun apa yang dimuat Sabili dalam membahas HT sangatlah tidak objektif. Sabili mengatakan bahwa HT mengeluarkan fatwa-fatwa dan menentukan hukum-hukum fiqih yang kontroversial bahkan "asing bagi tradisi fiqih dan rasa keislaman". Isi dari pembahasannya sama sekali bertolak belakang dengan realitas yang ada pada HT seperti tuduhan:

1. HT membolehkan berciuman dengan wanita asing baik dengan nafsu atau tidak
2. Cita-cita HT hanya merebut kekuasaan.
3. Membolehkan anggota HT dan wanita menjadi anggota Majelis Syuro.
4. Orang kafir boleh menjadi panglima di sebuah negara Islam.
5. Boleh memandang gambar-gambar porno.
6. HT meremehkan aspek pendidikan dan kerohanian dan lebih menekankan aspek ideologi dan politis.
7. Orang-orang moderat banyak yang mendukung dakwah HT antara lain Sayyid Qutub ketika berkunjung ke Al-Aqsha pada 1953 sebagai tahun awal berdirinya HT.
8. dan masih banyak lagi.
Adapun rujukan yang digunakan Sabili adalah buku yang berjudul Ensiklopedi Gerakan Keagamaan dan Pemikiran dari lembaga World Assembly Moslem Youth (WAMY). Di sebuah komunitas Facebook berjudul Bubarkan Hizbut Tahrir Indonesia pada catatan kakinya juga menggunakan buku tersebut sebagai rujukan utama.
Untuk lebih memperjelas tujuan penulisan artikel ini mari kita kupas satu persatu.
facebook-HT
tampilan situs komunitas Bubarkan HTI
facebook-HTI1
catatan kaki situs komunitas Bubarkan HTI pada no.1, 9 dan 10

Buku Gerakan Keagamaan dan Pemikiran terbitan WAMY atau buku WAMY awalnya beredar di Indonesia berbahasa arab. Namun oleh penerbit Al-Ishlah Press diterjemahkan dalam dua jilid. Entah ada motivasi apa dibalik penerbitan buku ini?! Buku tersebut berisi profil berbagai gerakan keagamaan dan sosial politik berbentuk ensiklopedi mini. wamy
Didalamnya membahas berbagai paham dan pergerakan yang terkenal di era sekarang. Sayangnya ketika membahas tentang gerakan seperti HT, Jamaah Tabligh (JT) dan organisasi Islam lainnya sangat kental dengan informasi miring dan fitnah terlebih lagi terhadap HT. Sedangkan Ikhwanul Muslimin (IM) digambarkan sebagai gerakan paling mapan. Satu hal yang sangat berbanding terbalik jika mencermati fatwa-fatwa konyol Yusuf Qardhawi– akan dibahas nanti - sebagai pimpinan teras di IM saat sekarang.
gerakan-keagamaan-pemikiranPada edisi berikutnya hak terbit buku ini dipegang oleh PT. I'tisham Cahaya Umat, penerbit Islam Reformis di wilayah jalan Pemuda Rawamangun, tepatnya saat ini di seberang kampus A, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Terbit dalam 1 jilid bahkan terakhir dibuat hardcover!

Jauh sebelum buku WAMY ini dikenal, ada dua buah buku yang menjadi sumber awal informasi miring seputar HT, JT dan lainnya. Buku tersebut yaitu Thariq ila Jamaatul Muslimin dan Ad-Dakwah Al-Islamiyah Faridhah Syar'iyyah wa Dlarurah Basyriyyah yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan menjadi Menuju Jamaatul Muslimin dan Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal. Buku pertama ditulis oleh Husein bin Muhammad bin Ali Jabir dan kedua ditulis oleh DR Shadiq Amin.
menuju-jamaatul-musliminAda sinyalemen bahwasanya DR.Shadiq Amin, penulis buku Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal tak lain adalah Syeikh Abdullah Azzam seorang mujahid dan mursyid IM Yordania. Dalam penuturannya beliau menyusun buku tersebut dibawah tekanan penguasa saat itu. Oleh penguasa Yordania buku tersebut disebarluaskan bahkan ditetapkan sebagai mata perkuliahan Syariah di Universitas Yordania. Setelah kasus ini bergulir Syeikh Abdullah Azzam langsung membuat kitab risalah (buku) sebagai klarifikasi atas tulisan beliau. Namun oleh pemerintah Yordania buku tersebut dilarang terbit. Hingga sekarang belum ada copian naskah atas buku tersebut dan ironisnya di Indonesia buku Syeikh Azzam yang diilegalkan rezim Yordania justru menjadi bahan kajian bagi aktivis Tarbiyah/PKS.
mencari-format-gerakan-dakwah-idealYa Allah...berilah kelimpahan kasih sayang kepada Syeikh Abdullah Azzam...dan berilah kami kekuatan untuk mengurai benang fitnah ini agar silaturahim antar aktivis dakwah menjadi lancar kembali.
Perlu anda ketahui bahwa WAMY adalah lembaga bentukan kerajaan Saudi Arabia. Tak jauh berbeda dengan rezim Yordania, rezim Saudi sangat bengis sekali dalam menyiksa dan membunuh para aktivis dakwah yang kritis terhadap kebijakan Saudi lantaran bersekutu terhadap diktator Kapitalisme, Amerika Serikat (AS). Terlebih lagi kepada mereka yang menyuarakan penegakan Khilafah Islamiyah. Mengapa? Karena Saudi takut singgasananya akan ditundukkan dibawah sistem Syariat Islam dan hingga sekarang pun negara ini tak peduli terhadap nasib saudaranya di Palestina dalam invasi abadi rezim Zionisme apalagi di negara lainnya. Alih-alih menolong Palestina, Saudi justru bekerjasama secara ekonomi dengan AS dalam pembagian ladang minyak.
Banyak juga aktivis Tarbiyah/PKS di negeri ini merupakan jebolan lembaga-lembaga bentukan Saudi Arabia. Diantaranya adalah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) dengan menyandang gelar Lc dibelakang namanya setelah menamatkan pendidikan disana.
Maka jangan heran ketika tragedi Palestina tengah bergolak di Gaza maupun Tepi Barat, ribuan massa PKS melakukan aksi kemanusiaan hanya di depan Kedubes AS. Tetapi Kedubes-kedubes yang mewakili Timur Tengah yang notabene 'tetangga' Palestina tak pernah dilakukan. Tanggapan sinis pun muncul seraya mengomentari aksi tersebut seperti di situs INILAH.com:
inilah.com
Lebih jelasnya bisa dilihat dibawah ini:

'Gaya Demo PKS Usang'

02/01/2009 - 16:08
Dewi Adhitya S Koesno
INILAH.COM, Jakarta - PKS mengerahkan sekitar 10 ribu massa ke bundaran HI untuk mengecam Israel, namun gaya demonstrasi tersebut dinilai sebagai aksi usang.
"Model dukungan PKS agak usang. Kalau dilihat, pola PKS seperti itu saja sejak dulu, tiga wilayah yang jadi sasaran, yaitu Kedubes AS, Istana Negara, dan PBB, yang didemo itu-itu saja," ujar Pengamat Politik Ray Rangkuti saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (2/1).
Ray mengatakan, masalah Palestina memang selalu menjadi peluang PKS untuk modal kampanye. "Sekarang yang terlihat PKS mau menggunakan isu palestina untuk kampanye, memang masalah Palestina sudah isu PKS. Tapi kebetulan muncul kasus palestina yang baru ini, memberi peluang PKS untuk blow up," tuturnya.
Kalau PKS murni ingin mendukung Palestina dan tidak ingin dikatakan usang ataupun cari muka, jelas Ray, seharusnya wilayah demo jangan hanya di Kedubes AS, tapi juga ke Kedubes Arab Saudi, karena wilayah Palestina merupakan wilayah muslim dan negara-negara Arab ikut bertanggung jawab dalam masalah Palestina.
"Problem Palestina sekarang makin banyak, sebenarnya Arab Saudi lebih bertanggungjawab. Tapi mereka (PKS) tidak berteriaknya ke Arab Saudi ataupun ke negara-negara Arab, sekali-kali harus mendorong demo ke Kedubes Arab Saudi, tapi problemnya itu tidak dikerjakan PKS," tegasnya.
"Istana juga jangan didemo, karena presiden kita sudah sangat dekat dengan isu ini. Masalahnya kan hanya negara arab yang tidak mau teriak seperti PKS, raja-raja unta harusnya juga memerhatikan," tambahnya.
Ketika ditanya demo yang dilakukan PKS tersebut apakah melanggar UU Pemilu, hal tersebut menurut Ray boleh dilakukan. "Menurut saya itu tidak melanggar UU Pemilu, itu sah-sah saja, boleh saja," pungkasnya. [tha/dil]
materi-tarbiyahDi lingkungan Tarbiyah, dalam lingkup Indonesia yang diwakili PKS, buku WAMY juga dijadikan rujukan utama. Hal ini dapat kita lihat pada daftar pustaka buku Materi Tarbiyah terbitan Media Insani yang menjadi bahan kajian liqo mereka.
Majalah Sabili pun menjadi bacaan khusus bagi kelompok PKS dan Tarbiyah. Informasi yang termuat dalam Sabili banyak mengangkat seputar IM yang -- katanya -- menjadi lokomotif perjuangan PKS maupun Tarbiyah di negeri ini. Dengan mengusung wacana Modernisasi Islam, IM dan kelompok Tarbiyah/PKS melakukan manuver pembaharuan Islam di segala bidang. Reformasi atau Gerakan Ishlahiyah yang bertujuan untuk mengIslamkan kehidupan Kapitalisme-Sekuler justru mengharuskan kelompok ini mengawinkan tata cara hidup Islam dengan hedonisme kaum Sekuler-Materialis.
ilusi-demokrasiDalam buku Ilusi Demokrasi karya Zaim Saidi (2007:24) mekanisme ini disebut sebagai tahapan Asimilasi dimana telah bercampurnya tata hidup Islam dengan Kapitalisme. Artinya sistem Kapitalisme yang dilegitimasi dengan dalil-dalil Quran dan Sunnah. Maka jangan heran jika jargon-jargon aneh banyak terdengar seperti Demokrasi Islami, Parlemen Islami, Perbankan Islami. Padahal Demokrasi, Parlemen, Perbankan sejatinya merupakan instrumen negara yang menganut Kapitalisme dan justru bertentangan sistem Islam yang menggunakan mekanisme Syura dalam pengambilan keputusan, Khilafah dalam pemerintahan dan Dinar/Dirham dalam menjalankan perekonomian.
Tokoh yang paling terkenal menjalankan Reformasi atau Asimilasi Islam dengan Kapitalisme yaitu Yusuf Qardhawi tokoh panutan di IM dan PKS/Tarbiyah. Maka jangan heran jika dia banyak mengeluarkan bermacam kitab Fiqih yang sebaliknya justru "terasa asing bagi tradisi Fiqih dan rasa keislaman" seperti yang dipaparkan Sabili dan WAMY.
Diantara kitab-kitab karangan beliau diantaranya adalah:
fiqih-jihad1. Fiqih Jihad berisi tentang pemaknaan Jihad sebagai perang defensif (mempertahankan diri). Artinya Jihad dilakukan ketika datang serangan dari musuh. Ini sangat bertentangan dengan Jihad yang sebenarnya adalah kebijakan luar negeri Negara Islam dalam penaklukan kepada negara yang belum menerima dakwah Islam. Justru lebih bersifat ofensif terhadap musuh. Apakah ini dalih agar Islam tidak dicap sebagai terroris oleh Kapitalis.
fiqih-negarafiqih-daulah2. Fiqih Daulah/Negara berisi tentang mekanisme mengelola negara dengan sistem demokrasi seraya mencari dalil-dalil pembenaran dalam beraktivitas di parlemen. Argumen yang dipakai yaitu kisah Nabi Yusuf as menjadi bendahara raja Firaun. Seharusnya Syariat Nabi terdahulu telah kadaluarsa dan disempurnakan oleh Syariat Nabi terakhir yaitu Syariat Islam. Imam Al Mawardi dalam Ahkamus Sulthaniyah justru menentang cara pandang ini karena Nabi Yusuf as menjabat pada bagian struktural (bendahara kerajaan) bukan fungsional yang membuat hukum-hukum kerajaan. Adapun parlemen demokrasi adalah membuat hukum-hukum baru yang menyamakan manusia dengan Tuhan! Di sisi lain Fiqih ini juga membahas keterlibatan kaum wanita dalam parlemen/majelis syura.
fiqih-minoritas3. Fiqih Minoritas membahas tentang kebolehan seorang muslim tidak menampakkan keislaman di negara kafir dan mengikuti budaya kafir. Contohnya kebolehan muslim menjadi tentara negara kafir demi pertahanan kemerdekaan. Apakah lebih baik menampakkan keIslaman daripada bersikap Taqiyah ala Rafidhah seperti ini?!
fiqih-prioritas4. Fiqih Prioritas membahas tentang keutamaan mengambil maslahat yang lebih besar diantara dua prioritas persoalan kehidupan. Menjadikan 'illat atau motivasi dibalik perintah sebagai sandaran melakukan perbuatan, baik dalam ibadah maupun muamalah. Seharusnya 'illat ada pada muamalah dan hukum! Juga menjadikan pola pikir "dimana ada maslahat disitu ada syariat", sebuah metode berfikir Kapitalis dalam mencari keuntungan. Justru yang benar adalah: Dimana ada Syariat disitulah maslahat.
5. Fiqih Al Waqi (Fakta/Realitas) berisi tentang pembahasan bagaimana seorang muslim menyikapi realitas di lingkungan tempat dia hidup dan menyesuaikan diri dengan aturan yang ada. Padahal seharusnya muslimlah yang harus mengubah keadaan di lingkungannya bukan 'diwarnai' oleh realitas.
6. Fiqih Praktis membahas tentang mencari kemudahan (rukhshah) beribadah dan muamalah dengan meninggalkan metode ulama Salaf dan Khalaf sebagai rujukan.
7. Fiqih Zakat membahas sisi-sisi persamaan zakat dengan pajak serta mekanismenya. Juga mendefinisikan tentang zakat profesi dikarenakan realitas masyarakat muslim mayoritas bekerja dengan upah bulanan. Sebuah inovasi yang sangat asing bagi tradisi fiqih dimana pajak sendiri nyata-nyata merupakan pranata kapitalisme.
8. Fiqih Kehidupan... apa lagi ini...?
Dalam menelurkan fatwa-fatwa, Qardhawi telah banyak mengundang kontroversi baik di dunia Islam maupun para pengamat Timur Tengah. Salah satunya pernyataannya tentang bolehnya seorang muslim meminum alkohol berkadar 0.5%:
Detik.com, jumat 11 Mei 2008, pernah menampilkan pernyataan Qardhawi seputar alkohol dihalaman situsnya. Bisa anda lihat dibawah ini.
detik-news
Lebih jelasnya bisa dibaca dibawah ini:

Fatwa Qardhawi Soal Alkohol Jadi Kontroversi

Jumat, 11/04/2008 07:00 WIB
Fitraya Ramadhanny - detikNews
Doha - Fatwa terbaru ulama terkemuka Syekh Yusuf al Qardhawi menimbulkan kontoversi di Qatar. Qardhawi membolehkan Muslim meminum minuman alkohol berkadar 0,5 persen.
"Fatwa yang terbaru menyebabkan kebingungan di masyarakat," tulis Editor harian Qatar Ash Sharq, Abdullatif al Mahmud seperti dilansir AFP, Jumat (11/4/2008).
Perdebatan dimulai saat Qardhawi mempublikasikan fatwanya di koran Qatar, Al Arab, pada Selasa 8 April 2008. Ulama Mesir ini mengatakan meminum minuman yang mengandung sejumlah kecil alkohol yang dinilai alami dari proses fermentasi, tidak melanggar hukum Islam.
"Keberadaan alkohol dalam proporsi 5 per seribu (0,5 persen) itu tidak dilarang karena itu adalah jumlah minimal, khususnya ketika itu dihasilkan dari fermentasi alami. Oleh karena itu tidak ada yang salah dengan meminum minuman itu," tulis Qardhawi.
Editor Ash Sharq, Mahmud, menilai, fatwa Qardhawi akan membuka pintu bagi mereka yang ingin meminum alkohol dengan alasan Al Quran dan Sunnah tidak menyebutkan proporsinya. Mahmud juga menilai adalah sulit mengukur kadar alkohol dari proses fermentasi.
Qardhawi kepada AFP mengatakan fatwanya menimbulkan kontroversi karena belum dipahami secara utuh. "Fatwa ini untuk merespons pertanyaan mengenai sebuah minuman berenergi yang beredar di pasaran Qatar," tegas Qardhawi.
Dukungan datang dari mantan Dekan Fakultas Syariah Universitas Qatar, Abdul Hamid al Ansari. Kepada AFP, dia membenarkan argumen Qardhawi. (fay/asy)
Terhadap fatwa Qardhawi diatas mengindikasikan bahwa beliau ingin mengawinkan konsep Islam dengan Barat dalam masalah khamr yaitu alkohol. Pola pikir yang diambil adalah agar kaum muslim boleh minum alkohol asal jangan berlebihan (pertengahan). Konsensus atau ijma ulama mayoritas sudah jelas bahwa segala zat yang memabukkan hukumnya haram. Tapi dengan dalih Asimilasi, Qardhawi 'berinovasi' agar Islam bisa diterima di tengah peradaban Kapitalisme Sekuler.
Ada juga fatwa beliau yang justru terasa asing bagi kebanyakan pemahaman Islam seperti kasus di bawah ini:
webazine
Lebih jelasnya bisa dibaca dibawah ini:

Fatwa Aneh Yusuf Qardhawi

Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi yang juga ketua persatuan internasional ulama Muslim kembali mengeluarkan fatwa aneh dan kontroversial yang menegaskan bolehnya pencalonan seorang perempuan dan seorang Koptik (unsur non-Muslim) pada pemilihan presiden.
Setelah sebelumnya dirinya mencap Sayyid Quthb bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah sehingga menimbulkan gonjang ganjing dikalangan Ikhwanul Muslimin sekarang ia memfatwakan fatwa yang bertentangan dengan mayoritas pendapat ulama-ulama besar baik ulama salaf maupun khalaf yang juga membuat Ikhwanul Muslimin kembali gonjang ganjing atas pendapatnya itu. Dalam fatwanya itu, Qardhawi menyatakan jika seorang perempuan memiliki hak untuk menduduki pelbagai jabatan kenegaraan semisal anggota parlemen, menteri, bahkan menjadi presiden, dan juga jabatan pada dewan fatwa.
"Logika Islam dalam kasus ini berdiri di atas prinsip jika perempuan adalah entitas masyarakat yang juga paripurna, mereka memiliki hak sebagaimana lelaki," terang Qardhawi.
Dalam acara bertajuk "Fikih Kehidupan" (Fiqh al-Hayat) yang disiarkan oleh kanal televisi "Ana" pada jaringan televisi satelit Timur Tengah Nilesat, Qardhawi menegaskan pihaknya lebih condong kepada pendapat fikih yang menyatakan seorang perempuan boleh menduduki jabatan kehakiman (qadha).
"Tapi tenu saja ada syarat-syarat kapabilitas yang ketat yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh perempuan tersebut, tidak sembarangan," terang Qardhawi.
Ditambahkan oleh Qardhawi, benar bahwa mayoritas ulama fikih tidak membolehkan perempuan untuk menduduki jabatan khalifah besar atau khalifah 'ammah, atau imamah uzhma, yaitu jabatan tertinggi kekhalifahan umat Muslim.
"Tetapi, masalahnya, apakah jabatan presiden yang hanya memerintah dan menguasai sebuah negara termasuk pada pembahasan khilafah? Atau, apakah hal ini bisa diqiyaskan sebagai pemimpin iqlim (wilayah bagian) pada zaman dulu? Saya katakan, ya, tidak ada penghalang dalam agama bagi seorang perempuan yang mampu untuk menduduki jabatan presiden," jelas Qardhawi.
Tampaknya fatwa kontroversial Qardhawi ini bisa jadi bakal dipakai oleh partai-partai Islam khususnya Indonesia untuk melegitimasi syahwat kekuasaan mereka, belum ada fatwa seperti inipun mereka telah menganggap "tidak masalah" dengan presiden perempuan.(em/jurnalislam)
Yang dapat kita tarik dari pernyataan diatas sebagai sebuah indikasi telah meleburnya aturan Islam dalam mengangkat pemimpin dengan peradaban Barat yang membolehkan pemimpin negara dari kalangan pria maupun wanita. Jelaslah sudah apa yang dihasilkan dari pemikirannya adalah aturan Demokrasi bukan aturan Islam.
"Akhirnya, Asimilasi terus berjalan menuju pelabuhannya yaitu Dermaga Kapitalisme dengan kapalnya bernama Demokrasi berbendera Modernisme dengan nakhoda Ikhwanul Muslimin dan ABK-nya Tarbiyah/PKS."
Dikalangan Tarbiyah/PKS, dalam membahas aqidah sangat berpegang pada Aqidah Salafi seperti yang tertulis dalam WAMY. Banyak buku-buku yang menjadi rujukan Tarbiyah/PKS merupakan kitab-kitab yang berasal dari ulama-ulama Salafi Saudi Arabia diantaranya adalah kiatab-kitab karangan Syeikh Nashiruddin Al-Albani.
Ibarat membuat benteng yang kokoh dalam mempertahankan aqidah Islam namun alih-alih membangun benteng pertahanan aqidah dari gempuran zaman, mereka justru membuat jembatan bernama Modernisasi menuju Sekulerisme. Terbukti dengan berubahnya orientasi PKS menjadi Partai Terbuka.
Hingga sekarang pun PKS telah melakukan koalisi dengan partai-partai Sekuler. Berbagai agenda dijalankan dengan target meraih suara mayoritas. Mereka berasumsi "Jika di parlemen tidak ada wakil dari kaum Muslim maka jatah kursi akan diisi oleh Kaum Kafir dan Sekuler".
Terhadap wacana naif semacam ini kita bisa mengajukan pertanyaan balik: "Lalu siapa yang membuat dan menyetujui kebanyakan kebijakan-kebijakan publik yang menyengsarakan rakyat seperti UU Migas, UU Privatisasi BUMN, UU Sumber Daya Air yang berujung pada privatisasi air dan lain-lain. Bukankah mereka semua adalah muslim?!" Semua ini dijalankan tak lain adalah mengejar Maslahat.
Di sisi lain para aktivisnya terlalu shaleh namun sangat polos dalam memahami realitas kerusakan yang terjadi di masyarakat. Ketika terlontar pertanyaan masyarakat seputar kenaikan harga BBM dan sulitnya meraih pendidikan bagi putra-putrinya mereka diam seribu bahasa. Dengan nada dingin mereka mengajak untuk bersabar dan bersabar. Bahkan tak jarang menyuruh yang bertanya agar bertemu kepada aktivis lain (HT) seraya mengatakannya sebagai mitra dakwah. Adapun kesigapan mereka dalam membantu korban bencana alam tak lebih dari sekadar 'tebar pesona' sambil menyebarkan paham Ishlahiyah-nya.
Maka jangan heran ketika 'Demo Usang PKS' seperti diatas, telah menyeret Tifatul Sembiring dan ketua Bawaslu dalam wawancara Apa Kabar Indonesia Malam yang dipandu oleh mbak Rahma Sarita pada perdebatan tentang Kampanye Terselubung PKS 2009. Ketua Bawaslu ketika itu menuding PKS telah berkampanye karena membawa bendera dengan nomor urut partai PKS (no.8) pada Aksi Palestina. Tetapi dengan nada naif defensif Tifatul.S mengatakan, "...ini semata-mata respon solidaritas kami atas derita bangsa Palestina yang ditindas oleh kekejaman Zionis Israel...!". Tak bisa menahan emosinya karena argumen-argumen Tifatul terlalu ngambang maka Ketua Bawaslu langsung menohoknya dengan pertanyaan, "Iyaa... Pak Tifatul... Bawaslu juga benci dengan Israel.... tapi kalo demo kenapa harus bawa-bawa bendera partai?!"
Setelah dialog berlangsung alot dan tak bisa dihentikan, Rahma Sarita selaku moderator pun langsung melerai serta bertanya kepada Tifatul, "OK...Ok...sekarang begini... Pak Tif... kenapa juga kok PKS tidak demo ketika ada isu kenaikan BBM... Kenaikan Tarif Listrik... Kesejahteraan Buruh dan yang sejenislah...? Kemana PKS...? Apakah Palestina itu isu paling seksi buat PKS mendulang suara?!
Sebagai lanjutan atas fenomena ini, mari kita menelaah beberapa tuduhan buku WAMY terhadap ormas HT yang secara objektif bersumber dari data dan fakta yang ada.
Menjawab tuduhan WAMY:
1. HT membolehkan berciuman dengan wanita asing baik dengan nafsu atau tidak.
Tuduhan pertama menyerang secara kesusilaan terhadap ormas maupun aktivis HT. Sebuah tindakan yang memalukan apabila dilakukan aktivis dakwah serta bisa menghancurkan harga dirinya. Sebagai tabayyun atas hal ini coba anda buka buku rujukan HT yaitu Sistem Pergaulan dalam Islam hal. 84:
sistem-pergaulan-dalam-islam
Pada paragraf kedua tertulis ciuman pria dengan wanita atau sebaliknya baik dengan nafsu ataupun tidak adalah haram. Fakta dilapangan pun berkata demikian. Aktivis HT dalam beraktivitas sangat memperhatikan akan haramnya ikhtilat dan khalwat atau campur baurnya wanita dengan pria dan berduaan antara laki-laki dan perempuan di tempat tertutup, terkecuali dalam aktivitas yang dalam fiqih diperbolehkan seperti jual-beli dan lain sebagainya.
Dalam acara walimah atau resepsi pernikahan pun aktivisnya diwajibkan memisahkan para undangan pria dengan wanita. Jika tidak maka akan terkena hukuman berupa skorsing halaqah. Ketika melakukan masiroh atau demo mereka juga memisahkan antara barisan laki-laki dengan perempuan. Kantor DPP HTI memisahkan antara kantor laki-laki dengan perempuan.
Namun apa yang dapat kita katakan ketika melihat demo PKS yang menjadikan buku WAMY sebagai rujukannya sangat bertolak belakang dengan yang mereka tuduh. Bisa dilihat gambar Demo Palestina PKS di bawah ini yang disana antara laki-laki dan perempuan tak ada pemisah:
pks-palestina
pks-palestina1
2. Cita-cita HT hanya merebut kekuasaan.
perubahan-mendasar-sayyid-qutbhPernyataan ini sangat sensitif dan tendensius, karena seperti yang telah dijelaskan oleh para aktivis HT bahwa orientasi HT bersama umat Islam adalah melanjutkan kehidupan Islam. Mengapa? Karena sistem kehidupan sekarang tidak berdasarkan Syariat melainkan mengejar Maslahat/Manfaat sebanyak mungkin seperti Kapitalisme yang diterapkan di dunia ini.
Bahkan slogan melanjutkan kehidupan Islam berasal dari Sayid Quthb yang dalam buku WAMY diceritakan secara miring tentang pertemuan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani selaku pimpinan HT dengan beliau. Bisa anda baca pada buku berjudul Perubahan Mendasar Pemikiran Sayid Quthb. Inilah yang menjadikan beliau mati di tiang gantungan dan peredaran buku tersebut tidak segencar buku WAMY dan yang sejenisnya.
Sebaliknya dalam buku berjudul Memperbarui Komitmen Dakwah pada hal. 58 karangan Muhammad Abduh terbitan Robbani Press berjudul Kepedulian Ikhwan terhadap Kemaslahatan Negara tertulis:
memperbaharui-komitmen-dakwahKetika terbit surat keputusan pelarangan jamaah Ikhwanul Muslimin pada tanggal 8 Desembar 1948 (pada masa an-Naqrasyi, yang diikuti dengan berbagai macam ujian, penyiksaan dan lain-lain), pada saat itu, datanglah sekelompok pemuda kepada Imam asy-Syahid (Hasan Al-Banna) untuk meminta izin melakukan perlawanan sesuai dengan kemampuan mereka.
Namun, beliau melarang keinginan mereka dengan keras, seraya menjelaskan kepada mereka akibat yang akan terjadi kemudian. Beliau menyebut cerita tentang Nabi Sulaiman yang terkenal, yaitu ketika datang kepadanya dua orang perempuan untuk mengadukan persengketaan mereka terhadap seorang bayi. Keduanya mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Maka, Nabi Sulaiman memberikan keputusan untuk membelah bayi itu menjadi dua.
Perempuan yang bukan ibu bayi itu sepakat dengan keputusan Nabi Sulaiman, namun perempuan kedua (ibu si bayi) tidak tega kalau si buah hatinya dibelah menjadi dua. Dia memutuskan lebih baik mundur dari tuntutannya asalkan bayi tersebut (anaknya) tetap hidupnya.
al-milal-wa-al-nihalSetelah itu, Imam asy-Syahid berkata, "Sesungguhnya, kita memainkan peranan yang sama dengan para pemimpin itu. Bahkan, kita lebih peduli dengan masa depan dan kehormatan bangsa kita. Karenanya, bersabarlah menghadapi musibah dan cobaan ini. Serahkan diri kalian kepada mereka untuk membunuh dan melakukan apa saja yang mereka inginkan demi masa depan bangsa kalian dan dalam rangka mempertahankan kesatuan dan kemerdekaannya."
Kutipan paragraf terakhir berhuruf tebal tadi justru mengajak anggota IM melakukan koalisi dengan rezim manapun sekalipun kejam. Terlihat sudah orientasi IM adalah kekuasaan. Sangat bertolak belakang dengan apa yang dialami Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabat r.a. ketika belum mempunyai negara yaitu mengalami penderitaan yang amat sangat namun tidak melakukan kompromi apalagi berkoalisi dengan penguasa kafir Mekkah.
Apa yang dikatakan Hasan al-Banna di paragraf terakhir merupakan satu bentuk doktrin Taqiyah kaum Assassin dari sekte Syiah Ismailiyah. Untuk mengetahui tentang Assassin anda bisa membaca kitab Milal Wan Nihal karya imam asy-Syahrastani.
3. Membolehkan anggota HT dan wanita menjadi anggota Majelis Syuro.
Tuduhan ketiga yang dialamatkan WAMY kepada adalah membolehkan wanita menjadi anggota Majelis Syuro atau yang sekarang berbentuk Parlemen Demokrasi. Jangankan wanita, HT pun melarang pria terlibat dalam Parlemen Demokrasi dikarenakan Parlemen membuat Undang-undang buatan manusia menyaingi Syariah.
Pada buku rujukan HT berjudul Sistem Pergaulan dalam Islam, hal. 135 bab Aktivitas Kaum Wanita paragraf kedua, jelas tertulis:
sistem-pergaulan-dalam-islam1"Adapun berbagai aktivitas yang dilakukan oleh laki-laki dengan predikatnya sebagai laki-laki seiring dengan karakter kemanusiaannya, atau yang dilakukan oleh perempuan dengan predikatnya sebagai perempuan seiring dengan karakter kemanusiaannya, maka sungguh syara' telah memisahkannya di antara keduanya dan membedakannya terkait dengan masing-masing dari keduanya, baik ditinjau dari sisi wajib, haram, makruh, mandub (sunnah), atau pun mubah. Dari sinilah, kita menemukan bahwa pemerintahan dan kekuasaan telah ditetapkan oleh syariah sebagai hak laki-laki dan bukan bagi perempuan. Sebaliknya, pengasuhan anak baik anak laki-laki atau anak perempuan ditetapkan sebagai hak kaum wanita saja, dan bukan hak kaum pria. Karena itu, merupakan keniscayaan untuk menyerahkan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan perempuan dengan predikatnya sebagai perempuan kepada kaum wanita."
Jelas sudah apa yang tertulis pada kitab rujukan HT sendiri perihal tuduhan yang satu ini. Sebaliknya, Yusuf Qardhawi yang menjadi panutan Tarbiyah/PKS di negeri ini malah mengeluarkan fatwa yang membolehkan keterlibatan wanita di Majelis Syuro. Situs Eramuslim. memuat pernyataan beliau dibawah ini:
qardhawi-fatwa-kontroversial

Fatwa Kontroversial Qardhawi :

Perempuan Boleh Jadi Presiden dan Mufti

Eramuslim Minggu, 06/09/2009 09:30 WIB
Syaikh Yusuf al-Qardhawi kembali mengeluarkan pernyataan aneh dan kontroversial, setelah sebelumnya dirinya mencap Sayyid Quthb bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah sehingga menimbulkan gonjang ganjing dikalangan Ikhwan dan sekarang ia memfatwakan fatwa yang bertentangan dengan mayoritas pendapat ulama-ulama besar baik ulama salaf maupun khalaf yang juga membuat Ikhwanul Muslimin kembali gonjang ganjing atas pendapatnya itu.
Baru-baru ini, ulama terkemuka yang juga ketua persatuan internasional ulama Muslim, Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi, merilis fatwa yang menegaskan bolehnya pencalonan seorang perempuan dan seorang Koptik (unsur non-Muslim) pada pemilihan presiden.
Kontan saja fatwa yang dikemukakan ulama kharismatik asal Mesir itu menuai kontroversial di dunia Islam, khususnya di jagat perpolitikann Mesir dan juga di dalam kalangan Jama'ah al-Ikhwan al-Muslimun (Ikhwan) yang merupakan organisasi binaan Qardhawi.
Selama ini, Ikhwan memiliki prinsip dan pandangan yang sama sekali bertentangan dengan fatwa Qardhawi tersebut. Pendapat resmi Ikhwan menyatakan jika seorang non-Muslim dan perempuan tidak boleh didukung untuk menjadi calon presiden.
Sementara itu, dalam fatwanya, Qardhawi menyatakan jika seorang perempuan memiliki hak untuk menduduki pelbagai jabatan kenegaraan semisal anggota parlemen, menteri, bahkan menjadi presiden, dan juga jabatan pada dewan fatwa.
4. Orang kafir boleh menjadi panglima di sebuah negara Islam.
Tuduhan sensitif yang satu ini sangat mengusik rasa keimanan seorang muslim. Bagaimana mungkin seorang kafir ditunjuk menjadi panglima perang sedangkan loyalitas mereka kepada Islam sangat diragukan?
struktur-negara-khilafahKitab rujukan HT, Struktur Negara Khilafah, yang membahas masalah ini menyatakan pada bab Amirul Jihad hal. 143 paragraf keempat:
"Pasukan diklasifikasikan menjadi dua kelompok: Pertama, pasukan cadangan yaitu setiap orang Islam yang mampu mengangkat senjata untuk berperang. Kedua, pasukan reguler (non-Muslim, pen), yaitu setiap orang yang secara kontinu menjadi anggota tentara yang telah ditetapkan bagi mereka gaji di dalam anggaran negara sebagaimana pegawai negeri lainnya."
Di halaman 144 juga disebutkan:
"Mengenai masalah gaji yang ditetapkan bagi para prajurit sebagaimana para pegawai negeri lainnya, hal ini jika dinisbatkan pada non-Muslim, merupakan perkara yang sudah jelas. Sebab, orang non-Muslim tidak diperintahkan berjihad. Namun, jika mereka melakukannya maka mereka tetap diterima. Dalam kondisi ini mereka boleh diberi harta (gaji). Sebab Imam at-Tirmidzi telah menuturkan riwayat dari az-Zuhri: 'Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberikan bagian harta rampasan perang kepada orang Yahudi yang ikut berperang bersama Beliau.'"
Di halaman 148 paragraf ketiga disebutkan bahwa panglima pasukan adalah Khalifah sendiri:
"Khalifah adalah panglima pasukan. Khalifahlah yang menunjuk dan mengangkat kepala staf. Khalifah pula yang menunjuk para amir untuk setiap brigade dan komandan setiap detasemen."
Jelaslah bahwa yang menjadi panglima perang di negara Islam adalah Khalifah yang pastinya seorang muslim, tetapi kaum non-Muslim hanya menjadi pasukan reguler dalam penaklukan atau Jihad. Tuduhan ini pun telah terbantah.
Realitas yang sebaliknya terjadi di PKS, ketika menjadi Partai Terbuka malah menerima keanggotaan dari kaum non-Muslim. Dalam memilih orang yang dijagokan pada Pemilu ataupun Pilkadal, kebanyakan bukan dari kadernya sendiri. Ironis memang.
5. Boleh memandang gambar-gambar porno.
Tuduhan kesusilaan kedua pun akan terbantah dengan membaca kitab HT yaitu Sistem Pergaulan dalam Islam hal. 28 pada paragraf ketiga tertulis:
sistem-pergaulan-dalam-islam.2
Tertulis diatas kalimat berikut ini:
"Maka dari itu, melihat wanita atau fakta-fakta yang menggugah birahi, akan membangkitkan naluri (syahwat, pen.) ini dan akan menuntut pemuasan. Demikian pula membaca cerita-cerita porno atau mendengarkan fantasi-fantasi seksual, akan membangkitkan naluri ini."
Maka tuduhan ini telah terbantah dengan sendirinya tanpa perlu penafsiran ulang!
6. HT meremehkan aspek pendidikan (akhlak) dan kerohanian (nafsiyah) dan lebih menekankan aspek ideologi dan politis.
Hizbut Tahrir sangat memperhatikan aspek pendidikan dan kerohanian. Banyak bahasan yang telah dikeluarkan HT baik berupa kitab-kitab rujukan maupun lembaran-lembaran dakwah.
peraturan-hidup-dalam-islamBeberapa dari kitab HT membahas tentang akhlak secara terperinci bisa dibaca di buku Peraturan Hidup dalam Islam bab Akhlak dalam Pandangan Islam. Inti pembahasannya adalah bahwa akhlak adalah bagian dari Syariah Islam dan merupakan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak diperbolehkan mengutamakan tema akhlak dalam berdakwah namun aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala diabaikan. Karena masyarakat bukan terbentuk dari adanya akhlak melainkan adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang ada pada masyarakat tersebut. Adapun berakhlak tanpa menjadikan Syariat sebagai pedoman hidup akan membuat orang yang meng-opinikannya cenderung munafik dan oportunis. Maslahat-lah yang menjadi tujuan bukan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.
pilar-pilar-pengokoh-nafsyiah-islamiyahMengenai kerohanian, HT telah mengeluarkan kitab yang berjudul Nafsiyah Islamiyah. Pembahasannya seputar keutamaan Benci dan Cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, Bersegera melaksanakan Syariah, Keutamaan Shalat Berjamaah di awal waktu dan lain-lain.
riyadhush-shalihinBahkan jauh sebelum HT terbentuk, Syeikh Yusuf An-Nabhani, kakek Taqiyuddin An-Nabhani, telah menyusun kitab Ringkasan Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi yang berisi tuntunan ibadah dan akhlak. Kitab tersebut telah diterbitkan oleh penerbit Irsyad Baitus Salam dan sangat laris penjualannya di masyarakat. Jadi sangat tidak berdasar dan tendensius mengenai tuduhan yang menyatakan HT mengabaikan kerohanian.
7. Orang-orang moderat banyak yang mendukung dakwah HT antara lain Sayyid Qutub ketika berkunjung ke Al-Aqsha pada 1953 sebagai tahun awal berdirinya HT.
Tuduhan ini pun sangat bertentangan dengan realitas yang terjadi hingga sekarang. Satu halaman web-site dari Sabili, cybersabili.com mencantumkan pernyataan Yusuf Qardhawi seputar Sayid Quthb dan Islam Moderat. Sebuah tuduhan yang justru dialamatkan kepada pendiri IM sendiri, Sayid Quthb selaku tokoh ideologisnya:
cyber-sabili-com
web site sabili tentang Sayid Qutb
lebih jelasnya baca dibawah ini:

Sayyid Quthb Bertanggung Jawab atas Berkembangnya Islam Radikal

Sabili Kamis, 13 Agustus 2009 08:21
yusuf-qardhawiKetua persatuan ulama Muslim internasional, Syekh Yusuf al-Qardhawi, menyatakan pemikiran takfir (pengkafiran pada muslim lain) dalam kitab-kitab Sayyid Quthb sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut mayoritas umat Islam di dunia. Pemikiran ini, tambah Qardhawi, juga tidak mencerminkan pemikiran gerakan al-Ikhwan al-Muslimin, karena pemikiran takfir sama sekali tidak selaras dengan pemikiran Ikhwan al-Muslimin.
Pernyataan Qardhawi ini disampaikan dalam dialog dengan Dr. Dhia Rishwan, peneliti gerakan Islam terkemuka asal Mesir, dalam program acara televisi "Manabir wa Madafi" (Mimbar dan Debat) yang disiarkan oleh kanal al-Fara'in Mesir pada Jumat (7/8), sebagaimana dilansir IslamOnline.net.
Dari Moderat ke Konservatif
Menurut Qardhawi, Sayyid Quthb bergabung dan aktif di organisasi Ikhwan al-Muslimin sejak awal tahun 50-an atas dasar ketertarikan dan kekagumanya pada Ikhwan. Pada mulanya, Quthb berpemikiran moderat dan selaras dengan Ikhwan, namun lama kelamaan, Quthb berubah menjadi lebih konserfatif. Perubahan ini terjadi pada akhir-akhir masa hidupnya, khususnya dalam kitab tafsir Fi Dzilal al-Qur'an (Dalam Naungan Alquran) dan kitab Ma'alim fi at-Thariq (Rambu-Rambu Jalan). Perubahan ini juga sangat jelas ketika kita bandingkan Dzilal cetakan pertama dan cetekan keduanya, pada cetakan kedua lah mulai muncul pemikiran hakimiyah (masyarakat hukum) dan jahilyah (masyarakat jahiliyah.
"Ahlussunnah tidak pernah condong kepada takfir, tidak sebagaimana yang sering dilakukan oleh sekte Khawarij," jelas Qardhawi.
Pemikiran takfir tersebut, lanjut Qardhawi, berkembang ketika ia mendekam di penjara. Kondisi ini cukup memengaruhi pemikiranya. Quthb menganggap pemerintah yang ada sebagai komunis dan jauh dari agama.
Meski demikian, jika saja Sayyid Quthb saat itu tidak digantung (pada 29 Agustus 1966) dan diberi kesempatan untuk hidup normal (tidak dalam tekanan politik) dan berbaur dengan masyarakat, kemungkinan pemikiran Quthb akan berubah dan kembali lagi kepada pemikiran moderat.
Quthb dan Pendidikan Ikhwan
Menurut Qardhawi, Sayyid Quthb merupakan salah seorang yang sangat mengagumi sosok Imam Hasan al-Banna, pendiri Ikhwan. Atas ketertarikan ini, Quthb pun menulis buku berjudul Hasan al-Banna wa 'Abqariyyah al-Banna (Hasan al-Banna dan Kejeniusan Seorang Pendiri).
Meski demikian, pada perjalanan selanjutnya, masih menurut Qardhawi, Quthb lebih dipengaruhi oleh pemikiran Abul A'la al-Mawdudi, tokoh Islam sezamannya dari Pakistan.
Namun menurut Qardhawi pemikiran takfir dan tajhil (menganggap masyarakat Islam saat ini adalah jahiliyyah) sangat berbeda dengan pemikiran Mawdudi sendiri.
"Pemikiran Quthb lebih kepada pencampuran antara Ikhwan, Salafi, dan Jihadi," jelas Qadhawi.
"Sayyid Quthb adalah sastrawan, pemikir, cendikiawan, penafsir, dan tokoh Islam terbesar pada masanya," terang Qardhawi. Namun, tambah Qardhawi, Quthb adalah orang yang paling bertanggung jawab atas berkembangnya aliran pemikiran radikal yang sekarang marak di kalangan sebagian umat Islam.(rpb/sbl)
sabili1

Qardhawi Center Menebarkan Islam Moderat

Rabu, 11 November 2009 05:15
Pascaperistiwa 11 September 2001, Islam menghadapi tantangan yang begitu berat. Stereotip Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan tumbuh begitu subur di dunia Barat. Guna mematahkan stereotip itu, di Doha, Qatar, telah berdiri sebuah pusat keislaman yang berupaya memperkenalkan ajaran Islam yang toleran dan penuh kedamaian kepada dunia Barat.
Pusat keislaman itu bernama Qardhawi Center--menggunakan nama ulama terkemuka di dunia--Syekh Yusuf Al-Qardhawi. Bagi umat Islam, nama Syekh Qardhawi begitu familiar. Ia adalah presiden Persatuan Ulama Muslim Internasional. Qardhawi Center secara resmi mulai berkiprah sejak 6 September 2009 lalu. ''Alasan utama pendirian Qardhawi Center ini karena kita telah terganggu oleh bahaya ekstremisme dan pencemaran nama baik Islam,'' ujar Muhammad Ahmad, direktur Qardhawi Center for Islamic Moderation and Renewal. Menurut Ahmad, stigma buruk terhadap Islam tak hanya terjadi di dunia Barat, tapi di seluruh penjuru dunia.
Sejatinya, Qardhawi Center didirikan oleh Syeikha Mozah binti Nasser, istri penguasa Qatar. Ia mendirikan lembaga keislaman itu untuk memperkenalkan kepada dunia barat tentang wajah Islam yang sebenarnya. Pada 2011 mendatang, pusat keislaman itu akan menggelar konferensi internasional tentang moderasi, yang akan dihadiri para tokoh lintas agama.
''Atmosfer di Qatar sangat positif untuk menjembatani kesenjangan antara dunia Muslim dan Barat,'' papar Ahmad menjelaskan. Menurut dia, ''Qatar sangat terbuka bagi negara lain di seluruh dunia. Selain akan mengenalkan wajah Islam yang sesungguhnya kepada dunia Barat, Qardhawi Center juga bakal memperjuangkan hak-hak kaum wanita.''
Tak cuma itu, pusat keislaman itu juga akan berjuang untuk meluruskan kesalahanpahaman tentang status perempuan di dalam Islam. Dunia Barat kerap menyebut Islam merendahkan dan mendiskriminasikan perempuan. Padahal, Islam adalah agama yang menghormati dan memuliakan kaum wanita. ''Kami harus memberdayakan peran wanita Muslim untuk memberi mereka hak politik dan demokrasi yang sepenuhnya,'' tutur Ahmad.
Islam Moderat
Qardhawi Center pun memiliki misi untuk menebarkan ajaran Islam yang moderat kepada seluruh dunia. ''Kebangkitan Islam dan pembaruan pemikiran adalah semacam reaksi terhadap dunia modern," cetus Ahmad. Menurut dia, umat Islam harus memikirkan kembali dan mengubah bentuk sebagian ajaran Islam agar sesuai dengan perkembangan dunia modern.
Syekh Qardhawi merupakan salah satu ulama paling berpengaruh di dunia. Ia dikenal memiliki pandangan-pandangan yang moderat. Pendapat dan fatwanya dihormati umat Muslim di seluruh dunia. Ia dipercaya menjadi ketua Dewan Eropa untuk Fatwa dan Penelitian, ia juga menjabat sebagai wali pada Pusat Studi Islam Universitas Oxford.
Sederet judul buku yang telah ditulis Syekh Qardhawi menjadi pegangan para ulama, pemikir, dan umat Islam di hampir seluruh dunia. Ia adalah ulama yang antikekerasan. Syekh Qardhawi mengutuk keras setiap aksi terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Peristiwa 9/11, pengeboman di Madrid, London, serta Bali.
Syekh Qardhawi juga mengecam serangan di negara-negara Arab, termasuk pengeboman kantor PBB di ibu kota Aljazair. Mantan Wali Kota London, Ken Livingstone, menggambarkan sosok Syekh Qardhawi sebagai seorang ''pemimpin progresif Muslim''. Popularitas dan karismanya kerap disamakan dengan Paus John XXIII.(Iol/Rpb/sbl)
Sebaliknya WAMY mengatakan Sayid Quthb sebagai tokoh moderat. Apakah ini sangat kontradiktif? Justru pertanyaannya mengapa Qardhawi mengangkat dirinya sebagai moderat dan mengeluarkan Sayid Quthb dari barisan Ahlussunnah wal Jamaah seraya menganggapnya radikal?!
Seharusnya Qardhawi beserta seluruh pengikutnya bergabung bersama HT karena menurut WAMY, mereka sama-sama berpaham moderat. Tetapi justru fitnah total yang dialamatkan kepada ormas HT yang sama-sama Muslim.
Pada rubrik Rosail majalah Sabili, ada pengajuan keberatan pembaca yang mempersoalkan dimuatnya ceramah dan profil Muammar Qadafi, kepala negara Libya. Menurut penulisnya, Qadafi adalah seorang Inkarsunnah dan Musailamah abad ini. Tanggapan atas masalah ini sangat sesuai dengan realitas yang ada.
qadhafi
cuplikan video Muammar Qadafi
Situs youtube.com juga memuat pernyataan Qadafi tentang kawasan Afrika Utara sebagai wilayah kaum Syiah. Kita pun tahu bahwa dahulu Afrika Utara adalah wilayah kekuasaan Syiah Ismailiyah termasuk masjid Al-Azhar yang merupakan basis pengajaran paham sesat mereka. Tanpa ingin membuka sejarah hitam masa lalu, mengapa Qadafi bisa mengeluarkan statemen seperti itu? Adakah konspirasi dibalik semuanya?
Jika anda dapat men-download buku berjudul Vatican Assassins hal.311, anda akan menemukan bahwa beliau adalah anggota organisasi Freemasonry tingkat tinggi. Untuk lebih jelasnya bisa anda baca salinan-nya yang masih dalam bahasa Inggris dibawah ini:
qadhafi-chapter24
Berita terbaru di media cetak maupun elektronik mengabarkan bahwa PKS pada akhirnya ingin melindungi komunitas sesat Ahmadiyah. Apakah ini sebuah cermin oportunisme Kelompok Moderat guna meraih dukungan suara dari kelompok sesat Ahmadiyah setelah sebelumnya mendeklarasikan diri sebagai Partai Terbuka? Ataukah pemikiran Wihdatul Adyan hasil doktrin Masonik telah masuk ke dalam pemikiran kader-kader partai ini? Wallahu'alam....!
Kesimpulannya buku WAMY tidak layak baik secara fakta, data maupun akademis sebagai rujukan, karena telah menjadi alat penjajah untuk memecah belah kesatuan umat Islam. Sengaja buku WAMY ini tidak tercantum nama penulisnya agar tak bisa digugat kebenarannya. Siapapun yang menjadikan buku fitnah ini sebagai rujukan maka dia telah siap untuk memakan daging bangkai saudaranya di neraka nanti. Naudzubillahi min dzalik.

Oleh: Abdul Khair
[untuk akhirzaman.info]

Monday, December 17, 2012

Islam: Penyembuh Masyarakat Yang Sakit

Islam: Penyembuh Masyarakat Yang Sakit

Ibarat tubuh, sebuah masyarakat bisa sakit, juga bisa sehat. Sehat atau tidaknya masyarakat dilihat dari kualitas interaksi sosialnya. Interaksi sosial di dalam masyarakat terjadi karena empat komponen: (1) individu-individunya sebagai anggota masyarakat; (2) kumpulan pemikiran yang diadopsi masyarakat; (3) perasaan kolektif masyarakat; (4) sistem/aturan hidup yang mengatur berbagai interaksi masyarakat (Muhammad Husein Abdullah, 1996).
Jika kita membayangkan bagaimana tubuh kita bekerja agar tetap sehat dan kuat, maka tubuh tentu perlu nutrisi yang cukup yang akan membentuk sistem imun (daya tahan tubuh) sehingga juga akan menguatkan sistem metabolisme dan menjaga organ-organ vital tubuh kita tetap sehat.
Begitu pula masyarakat, selain individu yang baik sebagai anggota masyarakat, maka faktor pertama yang akan membuat masyarakat sehat adalah kualitas nutrisinya yang berupa pemikiran-pemikiran yang sahih untuk membangun fondasi peradaban masyarakat dan menjadi identitas yang jelas bagi warna masyarakat. Kedua adalah perasaan kolektif masyarakat yang berperan sebagai kontrol sosial dan sistem imun karena rasa suka dan benci masyarakat akan menentukan sikap kolektif yang benar terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan. Ketiga adalah bagaimana kualitas sistem kehidupan yang ada mampu mengatur berbagai interaksi sosial tersebut sehingga menyelesaikan berbagai masalah dengan tuntas.
Mendiagnosa “Penyakit” Masyarakat Barat
Tidak ada yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa pada abad modern ini ada anggota masyarakat yang merasa terancam dengan masyarakatnya sendiri. Namun, itulah yang terjadi pada masyarakat Barat. Peristiwa teror dari banyak kasus pemuda yang hidup paranoid di lingkungan sosialnya adalah salah satu indikasi kronisnya penyakit masyarakat Barat. Paham individualistik akut yang merupakan buah dari sekularisme ini telah melahirkan generasi yang rusak mentalnya, kosong secara spiritual, gagal mendefinisikan realitas kehidupan, tidak memiliki tujuan hidup dan terobsesi pada tokoh-tokoh imajinatif dari industri hiburan kapitalistik yang mereka ciptakan sendiri.
Percampuran antara materialisme dan kebebasan individu tanpa batas telah menyebabkan kekerasan yang mewabah, keruntuhan bangunan keluarga, makin tingginya depresi sosial, krisis solidaritas antar generasi (intergenerational solidarity crisis) sehingga kaum muda tidak lagi peduli pada mereka yang lanjut usia dan sebaliknya, kesenjangan antara si kaya dan si miskin, hingga gagalnya proses integrasi sosial akibat kegagalan mengelola perbedaan dalam masyarakatnya.
Kebingungan negara-negara Barat dalam menetapkan standar moralitas juga terlihat jelas saat mereka berbeda pandangan dan kebijakan satu sama lain tentang kaum LGBT (Lesbian-Gay-Homoseksual dan Transgender). Demikian pula sikap beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang berbeda dengan negara bagian New York dalam mentoleransi ‘Hari Bertelanjang Dada’ bagi perempuan.  Barat telah berada dalam kondisi ‘kebingungan’ dalam menetapkan standar moralitas. Ini terjadi pada level perumusan kebijakan saat standar mereka berbeda-beda, berubah-ubah dan saling bertentangan satu sama lain.
Ketika Barat terus berupaya menyebarkan nilai-nilai dan ideologi mereka kepada dunia dengan cara yang sangat arogan dan memfit-nah peradaban Islam, maka sebenarnya mereka telah mencoba untuk menyembunyikan kepu-tusasaan yang mereka ciptakan pada masyarakat mereka sendiri dan di seluruh dunia. Sekarang Barat tidak lagi mampu menyembunyikan kemunduran dan kerusakan peradabannya.
Masyarakat Barat bercirikan 3 hal: sekular, pragmatis dan hedonis. Sebagaimana yang  dikemukakan oleh Taqiyuddin an-Nabhani (1953) dalam Nizham al-Islam Kapitalisme Barat: (1) berasaskan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan); (2) Berstandar manfaat (utilitarianisme/pragmatisme) dalam mengukur segala perbuatan manusia; (3) Bersifat hedonis (mementingkan kenimatan fisik) dalam memahami makna kebahagiaan.
Dari sini bisa didiagnosa interaksi sosial masyarakat Barat dengan menggunakan definisi masyarakat yang telah diurai pada awal tulisan. Intinya, sakitnya masyarakat Barat sangat dipengaruhi oleh:
1)   Anggota masyarakat yang individualistik dan materialistik.
2)   Pemikiran yang rancu dan ‘kosong’ secara spiritual akibat sekularisme yang diadopsi masyarakat Barat sebagai pemikiran dasar.
3)   Perasaan kolektif yang kacau akibat pragmatisme dan hedonisme yang membuat standar sikap di masyarakat berbeda-beda dan berubah-ubah
4)   Sistem yang zalim dan berpihak akibat penerapan sistem demokrasi- kapitalisme
Semua komponen di atas adalah akar dari penyakit yang melanda masyarakat Barat. Interaksi sosial masyarakatnya didominasi oleh kebebasan berperilaku yang sangat individualistik dan materialistik, ditambah dengan berbagai kebijakan dan undang-undang yang saling bertentangan dan berubah-ubah satu sama lain.
Sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan adalah penyebab yang paling mendasar dari kerusakan masyarakat, Selain bertentangan dengan fitrah manusia, akidah sekulerisme juga bertentangan dengan rasionalitas (akal). Nilai-nilai pemikiran Barat yang sekularistik ini telah gagal dalam memberi nutrisi pada kehidupan masyarakatnya. Akibatnya, masyarakat Barat nyaris tidak lagi memiliki identitas yang jelas.
Perasaan kolektif masyarakat Barat juga mengalami gangguan kronis karena sikap apatis dan individualistik menjalar ke seluruh sendi masyarakat. Standar kebijakan negara yang berubah-ubah dan berbeda-beda karena faktor pragmatisme, selain menciptakan kebingungan di antara anggota masyarakat, juga menambah kebingungan para pembuat kebijakan. Akibatnya, kontrol sosial serta integritas sosial sulit untuk dibentuk.
Belum lagi berbicara tentang sistem yang diterapkan, yang paling besar pengaruhnya pada kualitas interaksi sosial di masyarakat. Barat telah menerapkan sebuah sistem yang bukan hanya menciptakan tata dunia yang tidak adil yang dicirikan oleh imperialisme lewat mekanisme hutang, perdagangan yang tidak adil, dukungan bagi para diktator dan tiran, dan pendudukan yang ilegal. Ketidakadilan itu juga tampak jelas di dalam negerinya masing-masing saat  kesenjangan antar si kaya dan si miskin kian menjadi. Pada saat yang sama kebebasan sipil dikurangi dengan cara menteror rakyatnya sendiri.
Kesimpulan diagnosanya, penyakit masyarakat di Barat semua berpangkal pada ideologi Kapitalisme yang cacat sejak lahir dan mengandung bibit-bibit kanker sejak awal. Ideologi Kapitalisme telah merusak individu, pemikiran dan perasaan yang ada pada masyarakat Barat dalam jangka panjang.
Karena itu, penting menyimak firman Allah SWT berikut:
فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (١٥)
Adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Namun, mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami (QS Fushshilat [41]: 15).
Kualitas Interaksi Sosial dalam Masyarakat Islam
Jika Amerika menghabiskan ratusan juta dolar untuk penelitian dalam mengatasi problem sosial di masyarakatnya, maka dengan bahasa elegan Sayyid Quthb berujar, “Islam melenyapkan kebiasaan yang telah mengakar di masyarakat jahiliah hanya dengan beberapa lembar ayat Quran.” SubhanalLah.
Kutipan ilustrasi di atas adalah benar adanya. Islam memiliki solusi mengakar untuk menciptakan masyarakat yang sehat jiwanya. Islam dengan seluruh risalahnya yang luhur telah menjaga bangunan masyarakat dengan penjagaan yang sempurna. Akidah dan hukum-hukum Islam telah menjaga 8 (delapan) hal yang ada dalam masyarakat (Muhammad Husein Abdullah, 1996), yakni: (1) memelihara agama;  (2) memelihara jiwa; (3) memelihara akal; (4) memelihara keturunan; (5) memelihara harta benda; (6) memelihara kehormatan; (7) memelihara keamanan; (8) memelihara negara.
Masyarakat Madinah adalah model terbaik dari masyarakat yang sehat dan berperadaban luhur. Islam, sejak kelahirannya di Jazirah Arab, telah menorehkan prestasi yang luar biasa dalam membawa masyarakatnya pada keluhuran martabat. Dalam naungan wahyu Allah SWT, Islam juga berhasil melebur pemikiran dan perasaan masyarakatnya dalam kemurnian akidah Islam serta keharmonian hukum-hukumnya. Tidak aneh jika keutamaan kota Madinah diilustrasikan oleh Rasulullah saw. seperti alat peniup tungku pandai besi yang mampu menyingkirkan karat besi. Rasulullah saw. bersabda:  “Madinah itu seperti tungku (tukang besi) yang bisa membersihkan debu-debu yang kotor dan membuat cemerlang kebaikan-kebaikannya.” (HR al-Bukhari).
Rasulullah saw. juga mengibaratkan kehidupan masyarakat Islam seperti sekelompok orang yang mengarungi lautan dengan kapal, “Perumpamaan orang yang teguh menjalankan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya bagaikan sekelompok orang yang berada di sebuah kapal. Sebagian berada di atas dan sebagian lagi di bawah. Adapun mereka yang berada di bawah, bila memerlukan air minum, harus naik ke melewati orang-orang yang berada di atas, sehingga mereka berkata, “Lebih baik kita lubangi saja kapal ini agar tidak mengganggu saudara-saudara kita yang berada di atas.” Bila mereka yang berada di atas membiarkan niat orang-orang yang berada di bawah, niscaya binasalah mereka semua. Akan tetapi, bila mereka mencegahnya maka akan selamatlah mereka semua.” (HR al-Bukhari).
Gambaran analogi kapal ini menunjukkan perasaan kolektif masyarakat berfungsi dengan baik sebagai kontrol sosial yang efektif, karena jika ada seseorang yang hendak mengambil air dengan melobangi kapal dan tidak ada orang lain yang mencegahnya, niscaya yang tenggelam adalah seluruh penumpang kapal. Kepedulian sosial seperti ini menjadi sistem imun yang kuat jika berbagai penyakit datang menghinggapi masyarakat. Dengan itu terwujudlah masyarakat yang sehat individunya, pemikirannya, perasaannya serta sistemnya dengan ideologi Islam.
Secara ringkas komposisi masyarakat Islam adalah:
1)   Anggota masyarakat yang bertakwa.
2)   Pemikiran yang lurus di bawah bimbingan wahyu sehingga memberi identitas kuat bagi fondasi masyarakat.
3)   Perasaan kolektif yang kuat dan jelas sehingga fungsi kontrol sosial, yakni amar makruf nahi mungkar, menjadi sangat efektif.
4)   Sistem yang adil dan mampu menuntaskan persoalan-persoalan di masyarakat, yakni Daulah Islam.
Peran Muslimah
Sebagai anggota masyarakat, perempuan berada di pusat perang budaya di banyak negara Muslim sekarang ini. Mereka dipandang sebagai “pengemban budaya”, pengelola tradisi dan nilai-nilai keluarga, serta benteng terakhir melawan penetrasi dan dominasi budaya Barat. Perempuan Muslim memegang peranan penting dalam mempertahankan keluarga dan sekaligus identitas Islam masyarakat Muslim. Masyarakat yang sehat bisa dicapai jika kaum Muslimah sadar di mana posisinya yang tepat dan kembali meraih posisi itu. Posisi utama perempuan adalah sebagai pendidik generasi muda. Ibu yang cerdas, beriman dan sadar akan tugas utamanya, akan melahirkan generasi-generasi pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat Islam.
Di Barat, wujud dan peran utama perempuan ini telah dihancurkan. Akibatnya, yang terjadi adalah penyakit sosial dan kejahatan merajalela. Kezaliman yang paling buruk adalah rusaknya moral dan integritas kaum perempuan, karena akan menjalar ke seluruh sendi sosial masyarakat. Hancurnya peran perempuan dalam menjaga masyarakatnya tampak jelas di Barat. Baru-baru ini belasan perempuan di kota New York melakukan aksi protes dengan telanjang dada. Mereka menuntut kesetaraan di semua negara bagian AS untuk melegalkan kebolehan perempuan bertelanjang dada. Masya Allah. Bisa dibayangkan dampak dari liarnya perilaku perempuan di Barat. Wajar jika masyarakatnya menderita sakit kronis berkepanjangan.
Berbeda dengan Barat, Islam menjaga kehormatan kaum perempuan dengan hukum-hukumnya yang mulia. Perempuan diminta menutup aurat dan berhijab dan berbagai hukum lainnya yang sangat melindungi perempuan. Setelah menjaga kehormatannya, Islam memerintahkan kaum perempuan untuk menjalankan berbagai peran yang luar biasa dalam menjaga masyarakat, yakni berperan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa robbatul bayt), mendidik anak-anak mereka dan menguatkan suami mereka dalam mengemban Islam. Peran ini akan menjaga bangunan institusi keluarga sebagai unit terkecil dari bangunan masyarakat. Ibarat tubuh masyarakat, maka keluarga adalah sel-selnya, jika sel-selnya sehat maka sehat pula masyarakatnya.
Dalam lingkup yang lebih strategis, jika kuatnya peran Muslimah sebagai ibu semakin terakumulasi dalam masyarakat, berpadu dengan perannya sebagai da’iyah dan pengemban dakwah, maka terwujudlah peran sebagai Ibu generasi (ummu ajyal) yang dijalankan oleh kaum Muslimah dengan kesadaran politik tinggi. Tak bisa dibantah lagi, kesempurnaan peran yang digariskan Islam kepada perempuan justru menjadikan perempuan sebagai penguat peradaban dan penentu sehatnya sebuah masyarakat.
Penutup
Selain kewajiban amar makruf nahi mungkar serta peran terhormat kaum Muslimah untuk menjaga masyarakat, Islam juga telah memberikan sebuah sistem yang satu dan komprehensif yang akan memberi kesembuhan masyarakat yang sakit seberapapun parahnya. Sistem ini tiada lain adalah Khilafah Islam. Sebagaimana perkataan Utsman bin Affan ra., “Sesungguhnya Allah SWT memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang  tidak bisa dihilangkan oleh al-Quran.”
Khalifah sebagai pemimpin umum umat Islam akan mengatur berbagai interaksi sosial dan menghilangkan berbagai penyakit di dalam masyarakat dengan akidah dan hukum-hukum Islam yang mulia. WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Fika M. Komara; (Anggota Woman Section, Central Media Iffice, Hizbut Tahrir)]

Cara Islam Mengatasi Kriminalitas Remaja

Cara Islam Mengatasi Kriminalitas Remaja

Kekerasan dan pergaulan bebas menjadi potret buram kehidupan remaja saat ini. tawuran antarpelajar, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, perkosaan, pelecehan seksual dan peredaran VCD porno, narkoba dan HIV/AIDS menjadi perkara yang lumrah di kalangan remaja saat ini. Padahal remaja merupakan generasi penerus yang akan menerima tongkat estafet kebangkitan umat.
Kapiltalisme: Biang Kerok
Sederet potret buram remaja menjadi bukti kegagalan sistem Kapitalisme yang diterapkan, di antaranya melalui sistem pendidikan generasi saat ini. Sistem pendidikan sekular kapitalis telah menyita sebagian besar waktu dan tenaga siswa untuk mengabaikan aspek pembentukan kepribadian yang kuat. Sekolah sebagai institusi pendidikan alih-alih mencetak remaja yang berkualitas yang memiliki kepribadian yang kuat sesuai dengan tujuan pendidikan, namun justru menghasilkan remaja yang menciptakan banyak masalah. Sekolah yang baik seharusnya mampu membentuk kepribadian yang baik.  Sebaliknya, sekolah yang buruk adalah yang abai terhadap hal-hal tersebut. Inilah realita yang terjadi kini.
Sebenarnya Pemerintah telah menetapkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa serta berkembangnya potensi diri secara optimal. Tentu, ini adalah sebuah tujuan yang sangat ideal, dan memang itulah yang diharapkan dari sebuah proses pendidikan. Pendidikan harus melahirkan sosok manusia yang mempunyai kepribadian khas yang muncul dari keimanan dan ketawaan yang tinggi serta memiliki kemampuan berbasis kompetensi yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendidikan diarahkan untuk menempa kepribadian siswa yang kuat dan mengembangkan potensi keterampilan secara optimal.
Hanya saja, apabila kita menengok realita kehidupan para pelajar saat ini, tujuan ini terasa sangat klise.  Kalangan remaja sebagai output pendidikan saat ini jauh dari sosok manusia muttaqin dalam makna hakikinya. Kini, alih-alih ada rasa bangga bila bertemu dengan gerombolan remaja berseragam sekolah, yang ada adalah rasa was-was, khawatir menjadi korban tingkah polahnya yang buruk, bak preman jalanan.
Dengan kurikulum sekular kapitalistik, para pelajar kian terbentuk menjadi pribadi yang kering jiwanya, keras mentalnya, bahkan jumud dari mencari solusi berbagai persoalan yang menimpanya. Kata iman dan takwa tidak lebih dari lips service.  Kata ‘iman’ dan ‘takwa’ tidak mewujud dalam kenyataan.  Padahal sejatinya, apabila strategi pendidikan seiring dengan tujuannya, maka akan dihasilkan target optimal, yaitu terbentuknya sosok generasi ideal.  Namun, fakta menunjukkan bahwa ada perbedaan antara konsep dan metode pelaksanaannya.
Dalam Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003, nilai-nilai demokrasi dan HAM menjadi acuan dalam proses pendidikan  sehingga proses pembelajaran mengacu pada target tercapainya nilai-nilai tersebut.  Inilah fakta yang menunjukkan ada ketidaksesuaian antara visi dan misi pendidikan.  Visinya menjadi insan mu’min dan muttaqin, namun misinya melalui penanaman nilai HAM dan demokratisasi. Akankah misi ini dapat mewujudkan visi pendidikan?  Ataukah memang visi pendidikan nasional sudah mengalami disorientasi?  Bila benar, tentu tidak salah jika kita mengatakan bahwa tujuan pendidikan nasional yang dicanangkan tersebut hanyalah lips service saja.
Bila memang yang diinginkan adalah terbentuknya insan yang mu’min-muttaqin, relevankah bila ditempuh dengan cara memberikan pelajaran agama yang hanya dua jam pelajaran saja dalam satu minggu (2 jam dari 40 jam, hanya 5% dari pelajaran lainnya). Itu pun jika harinya tidak libur dan gurunya tidak bolos. Lebih dari itu penyampaian pelajaran lebih bersifat teoretis, kurang sisi implementatif, ditambah sarana praktik pendidikan agama yang sangat minim. Karena itu, wajar jika kemudian para pelajar memposisikan pelajaran agama tidaklah berbeda dengan pelajaran lainnya, yang hanya untuk dihapal karena akan keluar di soal ujian.
Belum lagi berbicara tentang kualitas guru. Sistem Kapitalisme, selain membebani guru dengan setumpuk bahan ajar yang harus disampaikan kepada siswa, mereka juga dipusingkan dengan beban hidup yang kian menghimpit, seiring dengan penghargaan Pemerintah yang jauh dari nilai layak bagi insan pendidik ini. Walhasil, proses belajar mengajar hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban saja, tidak lebih dari itu. Kondisi ini juga semakin diperparah dengan metode ajar yang hanya mengedepankan transformasi ilmu saja dan mengabaikan transformasi perilaku positif yang menjadi suri teladan.  Lihat saja banyak berita tentang bagaimana perilaku guru yang tidak memberikan contoh perilaku yang baik. Kasus guru yang berbuat kasar dengan membentak, menempeleng, atau menendang terhadap muridnya adalah contoh betapa wajar jika para siswa berulah anarkis, karena gurunya pun mengajarkan perilaku seperti itu.
Tidak dipungkiri pula bahwa dalam kurikulum pendidikan yang sekular kapitalistik ini, untuk membentuk sosok pelajar yang mu’min-muttaqin hanya bertumpu pada materi agama. Adapun pada pelajaran lain, tidak ada penanaman nilai kepribadian untuk menjadi mu’min-muttaqin.  Mengapa demikian? Karena sistem pendidikan nasional kita tidak berbasis agama.  Agama ditempatkan jauh dari urusan pendidikan.  Pendidikan di negeri ini menganut paham pemisahan agama dari pengaturan urusan masyarakat (sekular).   Akibatnya, terjadi dikotomi antara pelajaran agama dan pelajaran umum lainnya.  Pelajaran umum (non agama) berada di wilayah yang ‘bebas nilai’, yang sama sekali tidak tersentuh standar nilai agama.  Kalau pun ada hanyalah etik-moral yang tidak bersandar pada nilai agama.  Karena itu, wajar bila pembentukan kepribadian hanya dibebankan pada pelajaran agama saja.
Lemahnya Peran Keluarga
Kehidupan kapitalistik yang berlaku saat ini tidak hanya menjadi pangkal persoalan pendidikan di sekolah. Keluarga pun terkena imbasnya. Keluarga adalah basis pendidikan yang utama bagi setiap insan. Namun, sistem Kapitalisme telah memaksa para orangtua abai dalam proses pendidikan anak-anaknya. Kapitalisme telah menyebabkan beban hidup setiap keluarga terus mencekik. Keluarga pun harus memutar otak mencari penghidupan. Dengan  dalih mencapai penghidupan yang layak inilah, ayah dan ibu sibuk bekerja siang dan malam. Akibatnya, anak pun terabaikan.
Para ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anaknya tidak  sempat memberikan perhatian dan kasih sayang yang paripurna. Bahkan untuk memberikan keteladanan sehari-hari kepada anaknya pun tak ada waktu karena sibuk di luar rumah, turut membantu suami mengepulkan asap dapur. Akhirnya, para ibu banyak yang tidak lagi bisa memberikan arahan akan kehidupan yang harus dicapai anak-anaknya. Begitupun dengan sosok ayah. Ia menjadi figur yang asing bagi anak-anaknya.  Tanggung jawabnya untuk menjaga keluarga dari siksa api neraka sebagaimana perintah dari Allah SWT, jelas terabaikan. Sempitnya waktu bersama anak membuat komunikasi menjadi hal yang sangat mahal dalam keluarga. Anak pun terdidik dengan televisi, internet, HP dan  media eletronik lainya. Padahal dari media-media tersebutlah anak mendapatkan pengaruh buruk tentang pergaulan bebas, hidup konsumtif, kekerasan dan aktivitas kriminal lainnya. Anak tidak mengenal kasih sayang sejati dalam rumahnya. Perhatian justru didapat dari teman, geng, bahkan komunitas lain di jalanan.
Solusi Tuntas
Potret buram remaja sebenarnya dapat dituntaskan dengan memperbaiki sistem hidup yang mempengaruhi pemahaman dan perilaku remaja.  Untuk itu dibutuhkan peran dari berbagai unsur: sekolah, keluarga, masyarakat dan negara. Keseluruhannya bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik pada remaja, kepribadian yang dibangun di atas iman dan takwa.  Semuanya harus bersinergis untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja.
Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Di sanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing orangtuanya bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, Allah SWT.
Rasulullah saw. pernah bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-islami). Ayah dan ibunyalah kelak yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala) (HR al-Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasa’i).
Orangtua wajib mendidik anak-anaknya tentang perilaku dan budi pekerti yang benar sesuai dengan ajaran Islam. Bagaimana anak diajarkan untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan-santun, kasih-sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Dengan begitu, kelak terbentuk pribadi anak yang shalih dan terikat dengan aturan Islam.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah para  malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah atas apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS at-Tahrim [66]: 6).
Masyarakat—yang menjadi lingkungan remaja menjalani aktivitas sosialnya—mempunyai peran yang besar juga dalam mempengaruhi baik-buruknya proses pendidikan, karena remaja merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja. Masyarakat yang terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama, serta interaksi mereka diatur dengan aturan yang sama, tatkala masing-masing memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka semua orang akan sepakat memandang mana perkara-perkara yang akan membawa pengaruh positif dan mana yang membawa pengaruh negatif bagi pendidikan generasi. Perkara yang akan membentuk pengaruh negatif pada remaja tentu akan dicegah bersama. Jika ada sekelompok remaja terbiasa nongkrong dengan kegiatan yang tidak karuan, masyarakat setempat seharusnya bertindak membersihkan lingkungan dengan mengajak kelompok remaja tersebut mengalihkan kegiatan dengan hal yang lebih bermanfaat. Di sinilah peran penting masyarakat sebagai kontrol sosial.
Peran paling penting dan strategis dalam membentuk kepribadian remaja ada pada negara melalui pemberlakuan sistem pendidikan. Secara paradigmatik, pendidikan  harus dikembalikan pada asas akidah Islam yang akan menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar-mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/kampus tempat remaja eksis di dalamnya.
Paradigma pendidikan yang berasas  akidah Islam harus berlangsung secara berkesinam-bungan mulai dari  TK hingga Perguruan Tinggi yang pada ujungnya nanti diharapkan mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah islamiyyah), menguasai  tsaqafah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan  (iptek  dan keahlian).
Negara sebagai penyelenggara pendidikan yang utama haruslah menerapkan kurikulum yang menjamin tercapainya generasi berkualitas. Bukan hanya generasi yang mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga membentuk kepribadian Islamnya. Negara juga wajib mencukupi segala sarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan secara layak. Atas dasar inilah negara wajib memiliki visi pendidikan yang fokus pada pembentukan generasi berkualitas dan menyediakan pendidikan bebas biaya bagi seluruh rakyatnya. Kebijakan pendidikan bebas biaya akan membuka peluang yang sebesar-besarnya bagi setiap individu rakyat untuk mengenyam pendidikan. Dengan itu pendidikan tidak hanya menyentuh kalangan tertentu (yang mampu) saja, dan tidak lagi dijadikan ajang bisnis yang bisa mengurangi mutu pendidikan itu sendiri.
Negara wajib menyediakan tenaga-tenaga pendidik yang handal. Mereka ini haruslah yang memiliki kepribadian Islam yang luhur, punya semangat pengabdian yang tinggi dan mengerti filosofi pendidikan generasi serta cara-cara yang harus dilakukan. Mereka harus menjadi teladan bagi anak didiknya. Kelemahan sifat pada pendidik berpengaruh besar terhadap pola pendidikan generasi. Seorang guru tidak hanya menjadi penyampai ilmu pada muridnya, tetapi juga seorang pendidik dan pembina generasi. Agar para pendidik bersemangat dalam menjalankan tugasnya tentu saja negara harus menjamin kehidupan materi mereka.
Lebih dari itu, negara juga wajib mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang bisa merusak generasi, terutama media yang memberi pengaruh buruk dalam pendidikan dan pembinaan anak.
Peran negara yang seperti ini tentu tidak akan terwujud dalam tatanan sistem yang kapitalis. Hanya negara yang menerapkan Islam secara kaffah-lah yang mampu melaksanakan peran strategis ini. Oleh karena itu, berharap menghapus potret buram remaja dalam tatanan sistem kapitalis saat ini hanyalah mimpi di siang bolong. Karena itu, sudah saatnya mencetak potret cemerlang remaja dan generasi ini dengan tatanan terbaik dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Hanya tatanan Islam dalam institusi Khilafah Islamiyah-lah yang mampu menghapus potret buram remaja dan generasi ini menjadi potret cemerlang dan gemilang.
WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Dede Tisna; Ketua Lajnah Dakwah Sekolah (LDS DPP HTI)]

Sunday, June 17, 2012

Posted on 22 Juli 2011 by muhammadsugiono
Oleh: Syamsuddin Ramadhan
http://muhammadsugiono.files.wordpress.com/2011/07/ramadhan.png?w=150&h=122Seringkali kita tidak mempersiapkan diri semaksimal mungkin dalam menyambut bulan Ramadhan. Akibatnya, ketika bulan yang istimewa ini tiba, kita memperlakukan dan menyambutnya seperti bulan-bulan biasa saja. Bahkan, kadang-kadang kita menganggap, bahwa datangnya bulan istimewa ini justru akan mendatangkan banyak beban.Na’udzubillah min dzalik! Tidak hanya itu saja, kita juga tidak membekali diri dengan pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang hukum-hukum syari’at yang berhubungan dengan bulan Ramadhan. Akhirnya, kita sering melanggar hukum-hukum syari’at yang terkait dengan ibadah shiyam di bulan Ramadhan.

Agar kita tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan sebelumnya, ada beberapa persiapan yang patut dilakukan. Persiapan tersebut dilakukan agar kita berhasil mendapatkan buah Ramadhan yang mahal dan agar kita dapat melakukan amaliyah di bulan Ramadhan secara optimal dan maksimal. Sehingga, kita tidak hanya merasa senang dan gembira dengan datangnya Ramadhan, akan tetapi kita memang sudah siap dengan persiapan yang matang untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan di bulan itu.  

Persiapan Nafsiyah (Kejiwaan)
Yang dimaksudkan dengan persiapan nafsiyyah adalah persiapan–persiapan yang dilakukan untuk menyiapkan jiwa dan moral kita, sehingga secara kejiwaan kita sudah siap menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan hati gembira, dan menyadari sepenuhnya bahwa Ramadhan adalah bulan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Kesiapan jiwa yang sempurna, hingga tercipata sebuah persepsi di dalam diri kita, bahwa Ramadhan bukanlah bulan penuh beban, melainkan bulan untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas ubudiyah dan meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT.

Persiapan Fikriyah (ilmu)
Agar kita dapat melakukan aktivitas kebaikan di bulan Ramadhan secara optimal maka diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai fiqh ash-shiyâm. Oleh karena itu, persiapan fikriyah tidak kalah pentingnya bagi seorang Mukmin agar ia benar-benar mendapatkan rahmat, berkah, dan ampunan dari Allah SWT. Dengan pemahaman fiqh ash-shiyâm yang baik,  dia akan memahami dengan benar, mana perbuatan yang dapat merusak nilai shiyamnya dan mana perbuatan yang dapat meningkatkan nilai dan kualitas shiyamnya.

Atas dasar itu, seorang Mukmin wajib membekali dirinya dengan pengetahuan yang utuh tentang fiqh ash-shiyâm. Ini ditujukan agar kita secara fikriyyah, benar-benar siap menjalankan ibadah di bulan Ramadhan sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya.

Persiapan Jasadiyah (fisik)
Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik, baik untuk melaksanakan shiyamnya, tarawihnya, tilawahnya dan aktifitas ibadah lainnya. Dengan kondisi fisik yang baik, tentunya seseorang akan dapat melakukan ibadah-ibadah tersebut tanpa satupun yang terlewatkan. Sebab, bila kondisi fisik tidak prima akan terbuka peluang untuk tidak melaksanakannya amaliyah tersebut dengan maksimal, bahkan dapat terlewatkan begitu saja. Padahal bila ibadah-ibadah itu terlewatkan, nilai amaliyah Ramadhan tidak dapat tergantikan pada bulan yang lain.

Persiapan Materi
Persiapan materi di sini, bukanlah persiapan yang ditujukan untuk membeli pakaian baru, mengumpulkan bekal perjalanan pulang kampung atau untuk membeli kue-kue iedul fitri. Akan tetapi, persiapan materi di sini adalah persiapan materi yang ditujukan untuk infaq, shadaqah dan zakat. Sebab, nilai balasan infaq, shadaqah dan zakat akan dilipat gandakan sebagaimana kehendak Allah SWT. Karenanya, mempersiapkan materi di sini mesti dilakukan sedini mungkin, agar dapat dimenej dengan sebaik-baiknya.

Bulan Ramadhan merupakan bulan muwâsah (bulan santunan). Di dalam bulan ini, sangat dianjurkan untuk memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun sekedar sebutir kurma, seteguk air, atau sesendok mentega.
Rasulullah Saw pada bulan Ramadhan sangat dermawan dan pemurah. Digambarkan, bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah Saw kepada masyarakat begitu merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibn ‘Abbas ra:
“Sungguh, Rasulullah Saw saat bertemu dengan malaikat Jibril, lebih dermawan dari pada angin yang dilepaskan.”[HR. Muttafaqun ‘alaih].

Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik, kecuali jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

Persiapan Ramadhan Untuk Anak Kita
Dalam menyambut bulan Ramadhan, kadangkala kita lupa, atau bahkan tidak pernah mempersiapkan anak-anak kita sejak usia dini untuk “belajar” berpuasa.  Padahal, membiasakan diri dengan perilaku-perilaku yang baik kepada anak-anak kita merupakan bentuk kepedulian kita terhadap masa depan anak-anak.

Namun demikian, mengantarkan anak untuk berpuasa dan memahami maknanya, sungguh bukanlah pekerjaan yang mudah. Keberhasilan kita dalam mengkondisikan anak, memerlukan persiapan sejak jauh hari. Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, untuk merancang pola pendidikan terbaik bagi putra-putri kita selama bulan Ramadhan.

Mengenalkan Ramadhan Lewat Cerita
Stasiun TV biasanya getol mengiklankan tayangan-tayangan favorit guna menyambut Ramadhan, jauh sebelum Ramadhan tiba. Mereka terus menerus menjajakan acara-cara religiusnya untuk mengisi bulan Ramadhan. Oleh karena itu, jauh sebelum bulan Ramadhan tiba, Anda pun harus memiliki cara khusus untuk mempersiapkan putra-putri Anda. Lalu, bagaimana caranya? Mudah saja, manfaatkan kebiasaan mendongeng atau bercerita yang biasa Anda lakukan. Hanya saja, temanya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan.

Pilih cerita-cerita Islam yang menggambarkan suasana puasa dan keutamaan bagi yang menjalankannya. Bisa juga cerita mengenai kisah-kisah menarik seputar Ramadhan, baik mengenai sahabat atau Rasulullah yang berjuang di bulan Ramadhan. Atau Anda dapat mengarang sendiri cerita yang ada hubungannya dengan tema tersebut, selain menceritakan pengalaman masa kecil Anda ketika menjalani ibadah puasa. Ini akan lebih menarik minat anak, sebab, cerita tersebut lebih hidup dan Anda leluasa berimprovisasi.

Prolog Ramadhan melalui cerita ini dapat dimulai seminggu sebelum datangnya bulan Ramadhan. Di antara waktu bercerita tersebut Anda dapat mengajak anak untuk membuat rencana kegiatan selama bulan Ramadhan nanti, plus target yang ingin mereka capai. Kemukakan juga harapan apa yang Anda harapkan untuk mereka lakukan.

Lewat cerita ini, suasana Ramadhan sudah terbangun dalam alam pikiran anak; sehingga, ia akan mengharapkan kedatangan bulan ini dengan penuh semangat dan antusias.

Membangun Suasana yang Kondusif
Suasana rumah yang berubah juga akan mempengaruhi semangat anak. Misalnya dengan mengubah penataan rumah, mempersiapkan ruang khusus untuk sholat berjamaah dan tadarus al-Qur’an. Ajak anak-anak menghiasi ruang tersebut dengan tulisan kaligrafi dan gambar islami.

Demikian pula untuk dekorasi rumah maupun kamar, mesti didesain agar mampu menciptakan nuansa islami. Misalnya dengan mengubah letak play station, tv ataupun buku dan majalah yang bersifat umum, berganti dengan buku-buku atau majalah keislaman yang mudah dijangkau.

Kamar tidur anak dapat dihias dengan tulisan hadist, motto ataupun semboyan yang akan membangkitkan semangat mereka di saat nanti mereka menahan lapar dan haus ketika puasa. Tempelkan juga target dan jadwal kegiatan yang telah disusun bersama. Ibu sebaiknya mempersiapkan bintang-bintang yang siap ditempel untuk setiap rencana yang berhasil dicapai anak. Kerjakan bersama anak agar ia termotivasi untuk mendapatkan bintang sebanyak mungkin sampai akhir Ramadhan.
Kebiasaan Ayah mengecat rumah menjelang lebaran, yang biasanya dilakukan pada saat puasa, dapat dimulai justru sebelum Ramadhan. Di samping membangun mood anggota keluarga, juga agar selama Ramadhan lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan ibadah.

Persiapan Fisik
Ibu dapat mulai menyusun menu dengan gizi yang seimbang untuk anak yang puasa. Juga mulai melatih pola makan dari 3 kali sehari menjadi 2 kali saja. Bila dilihat dari pola kebiasaan makan, berpuasa sebetulnya hanya memindahkan jam, atau mengurangi satu kali waktu makan saja. Bila biasanya makan 3 kali sehari, menjadi 2 kali, yaitu waktu sahur dan waktu berbuka puasa.

Penyusunan menu ini untuk menghindari terjadinya kekurangan zat gizi pada anak. Kecukupan gizi pada anak akan terpenuhi apabila saat berbuka dan makan sahur mereka mengkonsumsi makanan yang beragam dalam jumlah yang cukup.

Mengajak Anak Untuk Bersahur Bersama
Bila esok hari mulai berpuasa, berarti malam sebelumnya kita disunnahkan melaksanakan sholat taraweh dan sahur. Melatih anak-anak untuk berpuasa dapat dimulai dengan belajar bangun malam untuk makan sahur bersama.

Untuk menarik minat anak, siapkan menu makanan kegemarannya dan buat suasana sahur menyenangkan, sehingga anak tidak merasa berat bangun tengah malam. Biarkan anak makan di akhir waktu sahur. Awal puasa, biarkan mereka mencoba dulu puasa hanya setengah hari. Ia akan berbuka pada tengah hari karena masih latihan. Dengan cara latihan yang bertahap seperti itu, si anak tidak merasa berat lagi untuk melakukan puasa sehari penuh.

Nilai Plus Puasa Bagi Anak
Banyak sekali nilai plus puasa bagi anak-anak. Dari sisi kesehatan, ibadah puasa memberikan istirahat pada organ-organ pencernaan tubuh, termasuk sistem enzim dan hormonal, yang kemudian akan bekerja kembali dengan lebih sempurna.

Selain itu, membiasakan puasa pada anak-anak sejak dini merupakan wahana untuk memupuk sikap disiplin pada diri anak. Berdisiplin untuk bangun sahur pada malam hari, makan tepat waktu berbuka dan menahan nafsu. Selain itu, puasa juga termasuk sebagai latihan untuk taat pada perintah agama.

Latihan ini bukan hanya pada menahan lapar saja, tetapi lebih penting pada esensi berpuasa itu sendiri. Karenanya, bila anak memang belum mampu berpuasa setengah hari penuh, biarlah mereka berbuka di tengah hari. Bukankah segala sesuatunya berlangsung secara bertahap? Termasuk dalam mendidik si kecil dalam hal puasa.

Pembiasaan puasa juga bisa mendidik anak-anak untuk jujur, misalnya mereka tetap berpuasa sekalipun teman-temannya di sekolah tidak. Kalaupun karena tidak kuat menahan lapar atau godaan teman ia terpaksa berbuka di luar rumah, anak juga bisa diajar untuk berterus-terang, bukan berbohong dan malu mengakui kesalahannya. (Syamsuddin Ramadhan)